ETIKET LAROIBA
FIHI UNTUK HARI AKHIR.
BAGI MUSLIM PASTI DAN WAJIB
MEYAKINI akan datangnya hari akhir. Mereka tentu berpikir akan berada pada sisi mana? dari bagian alam
baqa itu nanti. Yang mereka pilih tentu ingin mendapatakan kesudahan yang paling
baik lagi kekal abadi selamanya. Surga pasti dan bukan yang lain. Kemudian
bagaimana dengan kita?; apabila pertanyaan mendasar ini diarahkan kepada
masing-masing individu.
Etiket yang Allah berikan kepada
dua permasalahan , yang salah
satunya adalah tentang hari akhir disamping tentang kitab al quran;
dengan pembakuan LA ROIBA FIHI ; menempatkan keyakinan akan datang dan
hadirnya hari akhir menjadi bagian keimanan mereka yang benar-benar diyakini
dan menjadi salah satu unsur dari enam jumlah rukun iman dalam agama islam. Hari
akhir dengan dua bagian dari alam kekekalan ini hanya menyediakan dua tempat
yang sangat berbeda dan perbedaan itulah menjadi pasangan seimbang antara kemanfaatan dan
kemadorotan antara keburukan dan kebaikan antara kenikmatan dan siksaan. Allah
menetapkan berpasangan untuk semua ciptaanNya. Bila Surga diyakini ada maka
imbangannya yang berupa Neraka pun menjadi wajib diyakini keberadaannya.
Menyakini dua hal yang bertolak belakang atau berlawanan atau juga
berseberangan inilah yang masuk kedalam kemasan dengan etiket la roiba fihi.
Menjawab pertanyaan diatas
sebenarnya amat mudah. Kemudahannya itu didasarkan atas ada syarat ketergantungan yang mesti dipenuhi.
Syarat ketergantungan yang tak terpenuhi akan menjadi petunjuk bahwa diri
seseorang itu tak akan bisa mencapai Nirwana. Bagi diri seseorang yang
berkemampuan memenuhi syarat yang dituntutkan akan pemenuhannya; maka itulah dia
orangnya yang bisa dan pantas berani menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban:
“aku yakin besuk bila telah tiba saatnya
tentu masuk surga seijin Allah swt..
Mari kita lihat apa saja persyaratan
yang jadi tuntutan tersebut. Menurut al quran surat Ali Imron 3]:ayat:142 Allah
berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata
bagi Allah orang-orang yang berjihad
diantaramu; dan belum nyata orang-orang yang sabar”.Menitik dari firman Allah
dalam ayat ini ternyata meminta dua persyaratan. Persyaratan ini harus
dijalankan selama masih hidup dengan selama kehidupan itu masih dimiliki oleh individu.
Maksudnya harus berjihad dijalan Allah selama hidup dan juga bersabarpun selama
hidup. Setelah satu individu selesai menjalani masa hidupnya; barulah diperiksa
seberapa banyak ia berjihad di jalan Allah dan seberapa sabar ia dalam
menjalani urusan kehidupannya dengan selalu dengan sabar secara dawam atau terus-menerus dengan istiqomah tanpa ada
kelunturan sedikitpun dalam bentuk apapun yang menurunkan kualitas kesabaran
pada satu individu ini.
Jihad dijalan Allah dengan
mengeksploitasi semua potensi yang ada pada diiri satu individu. Sebut saja
tenaga pikiran dan kepiawaian. Tenaga dimaksudkan segala kekuatan pisik
jasmaninya. Yang pasti hal ini mengalami pasang surut terkait dengan kondisi
kebugaran dan kesehatan jasmaniah. Pikiran melipiuti keserdasan dan ilmu yang
dimiliki. Sedang kepiawaian ialah cara menerapkan tenaga dan ilmu dalam aktifitas
yang kemudian melahirkan banyak manfaat dalam kemaslahatan hidup terkait dengan
pilihan taktik dan strategi juga sekala prioritas permasalahan yang hendak
diatasi persoalannya hingga berbuah manis bagi cakupan yang seluas-luasnya. Itu
disatu sisi. Sedang pada sisi lainnya ialah harus ada penyertaan korbanan harta
benda yang dikuasai dan jadi milik individu pelaku jihad. Bila demikian halnya
maka tiap individu boleh menghitung sendiri besaran prosentase untuk jihad yang
telah dilakukan dengan memberdayakan potensi diri dan harta benda miliknya;
sampai dengan hari ini. Kemudian akan tetapkan bertahan dalam berjihad kedepannya
ataukan terhenti sampai disitu padahal umur masih ada. OH lluarbiasa luasnya
area berjihad dijalan Allah ini dengan harus menggunakan segenap potensi diri
serta harta benda milik pribadi. Selamat melakukan hisaban atau perhitungan
perkara jihad fi sabilillah ini bagi diri ssendiri sebelum Allah
memperhitungkannya. La chaula wa la quata ila bi Llah. Mudah-mudahan bagi satu
individu yang telah berani menjawab : aku pasti lulus dalam memenuhi syarat
berjihad yang ditetapkan Allah dalam ayat tersebut diatas. Yang menulis
postingan ini tentu turut mendukung dengan ucapan insyaAllah. Anda berhasil
memenuhi dan memperoleh penilaian positif dalam berjihad. Amin.
Sekarang masuk kepada belahan
syarat yang kedua yakni sabar. Doa dari yang menguakkan lubang intipan terhadap
etiket label la roiba fihi bagi hari
akhir akan menyibakkan sedikit saja tentang cakupan sabar yang menjadi mata
penilaian sehingga diperoleh nilai nyata untuk masuk kepada kategori orang muslim yang berpredikat penyabar.
Sebelumnya; yang memosting artikel ini mengingatkan akan makhluk Allah yang
bernama nabi Ayub telah diuji kesabarannya oleh Allah dan dinyatakan lulus dan
lalu oleh Allah memperoleh gelar hamba Allah yang paling sabar. Lain halnya
nabiullah Musa yang masih harus belajar perihal kesabaran dalam perjalanan
tugas perjuangan melakukan job kenabbiannya; setelah lepas dari uji coba
kesabaran yang bawakan oleh nabi Hidir kepadanya. Pembaca tentu ingat kisah
yang terungkap dalam alquran tentang hal tersebut. Nabi Musa kedapatan tidak
sabar ketika Hidir mengujinya dengan
melakukan pembatalan keberangkatan perahu-perahu nelayan melaut dengan
merusaknya. Rahasia dibalik tindakan Hidir adalah pencegahan agar tak terjadi
kerugian lebih besar dari perbuatan perompak ditengah laut. Juga ketika Hidir
membunuh jiwa pemuda tak berdosa dihadapan Musa. Rahasia yang terkandung
dibalik peristiwa ialah agar orang tua dari pemuda tersebut mendapat ganti
keturunan yang lebih soleh dibanding pemuda itu bila ia mencapai kedewasaannya.
Yang ketiga kalinya saat Hidir memperbaiki tetap tegaknya dinding sebuah bangunan rumah yang hampir roboh. Sedang
pemilik rumah tersebut adalah orang yang amat bahil sedang Hidir tidak menuntut
upah sebagai imbalan jasa perbaikan dinding. Rahasia harus tetap tegaknya
dingding karena dibawah fondasi dinding tersebut tersimpan harta milik anak
yatim yang saat itu masih terlalu kecil dan lemah dalam mengurus harta
warisannya.
Asyiiiik. Kok malah hanyut dalam
kisah. Padahal penulis maksudkan hanya ingin menunjukkan urusan ujian kesabaran
itu sesungguhnya bagi tiap individu berbeda-beda coraknya. Namun barang siapa
menyikapinya penuh dengan kehati-hatian dan penuh kepedulian insyaallah lulus
uji. Kemampuan dan ketangguhan masing-masing individu dalm mengambil keputusan
pada tiap tuntutan kesabaran itupun
bervariasi ketegarannya. Ya ya ya mudah-mudahan diberi keperkasaan mengatasi uji kesabaran ini.
Doanya tentu: “Allahumaj^alni miladunKa sulthonan nashiro”
Hah.. udahlah. Sampai disini dulu
dan selamat menjawab pertanyaan diatas higga berani menjawab dengan positif
tanpa ragu. Andaikata masih ada keraguan tentulah memerlukan ishlah atau
perbaikan kualitasd secara terus menerus hingga masing-masing kita sampai
kepada batas yang mesti menghentikan dari segala bentuk kegiatan upaya yang
bakal dilakukan untuk melakukan perbaikan. Salam.
Semoga postingan ini akan
bersambung dengan ulasan dua gerbang berhimpit dan berterusan dengan dua thoriq
yang berhimpit pula. InsyaAllah!!
label LA ROIBA FIHI dalam al quran hanya diprioritaskan bagi alkitab (al quran) itu sendiri dan bagi ketetapan adanya hari akhir; benar kan? adakah anda telah menelusurinya?ketemu dimana lagi?
BalasHapushasil penelusuran anda tentu akan menguatkan diri pribadi dan juga meningkatkan intensitas kecermatan dan ketelitian bagi semua pemerhati.kiranya perlu dicoba. ok?
BalasHapus