Sabtu, 01 September 2012

COBAAN DAN SABAR


ETIKET LAROIBA FIHI UNTUK HARI AKHIR.
BAGI MUSLIM PASTI DAN WAJIB MEYAKINI akan datangnya hari akhir. Mereka tentu berpikir akan berada pada sisi mana? dari bagian alam baqa itu nanti. Yang mereka pilih tentu ingin mendapatakan kesudahan yang paling baik lagi kekal abadi selamanya. Surga pasti dan bukan yang lain. Kemudian bagaimana dengan kita?; apabila pertanyaan mendasar ini diarahkan kepada masing-masing individu.
Etiket yang Allah berikan kepada dua  permasalahan , yang salah satunya  adalah tentang hari akhir disamping tentang kitab al quran; dengan pembakuan LA ROIBA FIHI ; menempatkan keyakinan akan datang dan hadirnya hari akhir menjadi bagian keimanan mereka yang benar-benar diyakini dan menjadi salah satu unsur dari enam jumlah rukun iman dalam agama islam. Hari akhir dengan dua bagian dari alam kekekalan ini hanya menyediakan dua tempat yang sangat berbeda dan perbedaan itulah menjadi  pasangan seimbang antara kemanfaatan dan kemadorotan antara keburukan dan kebaikan antara kenikmatan dan siksaan. Allah menetapkan berpasangan untuk semua ciptaanNya. Bila Surga diyakini ada maka imbangannya yang berupa Neraka pun menjadi wajib diyakini keberadaannya. Menyakini dua hal yang bertolak belakang atau berlawanan atau juga berseberangan inilah yang masuk kedalam kemasan dengan etiket la roiba fihi.
Menjawab pertanyaan diatas sebenarnya amat mudah. Kemudahannya itu didasarkan atas  ada syarat ketergantungan yang mesti dipenuhi. Syarat ketergantungan yang tak terpenuhi akan menjadi petunjuk bahwa diri seseorang itu tak akan bisa mencapai Nirwana. Bagi diri seseorang yang berkemampuan memenuhi syarat yang dituntutkan akan pemenuhannya; maka itulah dia orangnya yang bisa dan pantas berani menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban: “aku yakin besuk bila telah tiba saatnya tentu masuk surga seijin Allah swt..
Mari kita lihat apa saja persyaratan yang jadi tuntutan tersebut. Menurut al quran surat Ali Imron 3]:ayat:142 Allah berfirman: “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah  orang-orang yang berjihad diantaramu; dan belum nyata orang-orang yang sabar”.Menitik dari firman Allah dalam ayat ini ternyata meminta dua persyaratan. Persyaratan ini harus dijalankan selama masih hidup dengan selama kehidupan itu masih dimiliki oleh individu. Maksudnya harus berjihad dijalan Allah selama hidup dan juga bersabarpun selama hidup. Setelah satu individu selesai menjalani masa hidupnya; barulah diperiksa seberapa banyak ia berjihad di jalan Allah dan seberapa sabar ia dalam menjalani urusan kehidupannya dengan selalu dengan sabar secara dawam atau terus-menerus dengan istiqomah tanpa ada kelunturan sedikitpun dalam bentuk apapun yang menurunkan kualitas kesabaran pada satu individu ini.
Jihad dijalan Allah dengan mengeksploitasi semua potensi yang ada pada diiri satu individu. Sebut saja tenaga pikiran dan kepiawaian. Tenaga dimaksudkan segala kekuatan pisik jasmaninya. Yang pasti hal ini mengalami pasang surut terkait dengan kondisi kebugaran dan kesehatan jasmaniah. Pikiran melipiuti keserdasan dan ilmu yang dimiliki. Sedang kepiawaian ialah cara menerapkan tenaga dan ilmu dalam aktifitas yang kemudian melahirkan banyak manfaat dalam kemaslahatan hidup terkait dengan pilihan taktik dan strategi juga sekala prioritas permasalahan yang hendak diatasi persoalannya hingga berbuah manis bagi cakupan yang seluas-luasnya. Itu disatu sisi. Sedang pada sisi lainnya ialah harus ada penyertaan korbanan harta benda yang dikuasai dan jadi milik individu pelaku jihad. Bila demikian halnya maka tiap individu boleh menghitung sendiri besaran prosentase untuk jihad yang telah dilakukan dengan memberdayakan potensi diri dan harta benda miliknya; sampai dengan hari ini. Kemudian akan tetapkan bertahan dalam berjihad kedepannya ataukan terhenti sampai disitu padahal umur masih ada. OH lluarbiasa luasnya area berjihad dijalan Allah ini dengan harus menggunakan segenap potensi diri serta harta benda milik pribadi. Selamat melakukan hisaban atau perhitungan perkara jihad fi sabilillah ini bagi diri ssendiri sebelum Allah memperhitungkannya. La chaula wa la quata ila bi Llah. Mudah-mudahan bagi satu individu yang telah berani menjawab : aku pasti lulus dalam memenuhi syarat berjihad yang ditetapkan Allah dalam ayat tersebut diatas. Yang menulis postingan ini tentu turut mendukung dengan ucapan insyaAllah. Anda berhasil memenuhi dan memperoleh penilaian positif dalam berjihad. Amin.
Sekarang masuk kepada belahan syarat yang kedua yakni sabar. Doa dari yang menguakkan lubang intipan terhadap etiket label la roiba fihi bagi hari akhir akan menyibakkan sedikit saja tentang cakupan sabar yang menjadi mata penilaian sehingga diperoleh nilai nyata untuk masuk kepada kategori orang muslim yang berpredikat penyabar. Sebelumnya; yang memosting artikel ini mengingatkan akan makhluk Allah yang bernama nabi Ayub telah diuji kesabarannya oleh Allah dan dinyatakan lulus dan lalu oleh Allah memperoleh gelar hamba Allah yang paling sabar. Lain halnya nabiullah Musa yang masih harus belajar perihal kesabaran dalam perjalanan tugas perjuangan melakukan job kenabbiannya; setelah lepas dari uji coba kesabaran yang bawakan oleh nabi Hidir kepadanya. Pembaca tentu ingat kisah yang terungkap dalam alquran tentang hal tersebut. Nabi Musa kedapatan tidak sabar ketika Hidir mengujinya dengan  melakukan pembatalan keberangkatan perahu-perahu nelayan melaut dengan merusaknya. Rahasia dibalik tindakan Hidir adalah pencegahan agar tak terjadi kerugian lebih besar dari perbuatan perompak ditengah laut. Juga ketika Hidir membunuh jiwa pemuda tak berdosa dihadapan Musa. Rahasia yang terkandung dibalik peristiwa ialah agar orang tua dari pemuda tersebut mendapat ganti keturunan yang lebih soleh dibanding pemuda itu bila ia mencapai kedewasaannya. Yang ketiga kalinya saat Hidir memperbaiki tetap tegaknya dinding sebuah  bangunan rumah yang hampir roboh. Sedang pemilik rumah tersebut adalah orang yang amat bahil sedang Hidir tidak menuntut upah sebagai imbalan jasa perbaikan dinding. Rahasia harus tetap tegaknya dingding karena dibawah fondasi dinding tersebut tersimpan harta milik anak yatim yang saat itu masih terlalu kecil dan lemah dalam mengurus harta warisannya.
Asyiiiik. Kok malah hanyut dalam kisah. Padahal penulis maksudkan hanya ingin menunjukkan urusan ujian kesabaran itu sesungguhnya bagi tiap individu berbeda-beda coraknya. Namun barang siapa menyikapinya penuh dengan kehati-hatian dan penuh kepedulian insyaallah lulus uji. Kemampuan dan ketangguhan masing-masing individu dalm mengambil keputusan pada tiap  tuntutan kesabaran itupun bervariasi ketegarannya. Ya ya ya mudah-mudahan diberi  keperkasaan mengatasi uji kesabaran ini. Doanya tentu: “Allahumaj^alni miladunKa sulthonan nashiro”
Hah.. udahlah. Sampai disini dulu dan selamat menjawab pertanyaan diatas higga berani menjawab dengan positif tanpa ragu. Andaikata masih ada keraguan tentulah memerlukan ishlah atau perbaikan kualitasd secara terus menerus hingga masing-masing kita sampai kepada batas yang mesti menghentikan dari segala bentuk kegiatan upaya yang bakal dilakukan untuk melakukan perbaikan. Salam.
Semoga postingan ini akan bersambung dengan ulasan dua gerbang berhimpit dan berterusan dengan dua thoriq yang berhimpit pula. InsyaAllah!!

2 komentar:

  1. label LA ROIBA FIHI dalam al quran hanya diprioritaskan bagi alkitab (al quran) itu sendiri dan bagi ketetapan adanya hari akhir; benar kan? adakah anda telah menelusurinya?ketemu dimana lagi?

    BalasHapus
  2. hasil penelusuran anda tentu akan menguatkan diri pribadi dan juga meningkatkan intensitas kecermatan dan ketelitian bagi semua pemerhati.kiranya perlu dicoba. ok?

    BalasHapus